Diselamatkan berkat Sholawat

Buat mengawali artikel ini, mau tidak mau harus diceritakan bahwa masa lalu penulis cukup kelam. Sejak SMP ( tahun 90an), sudah ber tattoo , sudah merokok , parkir , dan lain sebagainya ( tidak bisa diceritakan secara detail karena menghormati keinginan bapak yang tidak ingin dosa masa lalu anaknya terlalu diumbar )

Kemudian perlu diceritakan juga bahwa kondisi sekarang ini sudah sangat berbeda. Sejak 2019 sudah kenal dengan dunia yang jauh lebih baik ( lingkungan pondok pesantren).

Selama “ tersesat “ , ada beberapa keanehan yang sempat dialami. Salah satunya adalah, ketika dalam keadaan mabuk, dan beberapa teman ribut sendiri, bahkan nyaris berantem, secara spontan malah aku tiba tiba melakukan gerakan sholat.

Keanehan lain yang pernah terjadi adalah, entah karena apa tiba tiba ingin sholat. Padahal waktu itu bisa dibilang sangat jarang buat sholat.

Sampai disini aku stop sebentar ya. Hampir ngga pernah sholat bukan karena tidak diajarkan agama. Didikan bapak sangat keras kalau soal agama.

Lanjut,

Dan disaat sholat itu, di sujud terakhir tiba tiba nangis. Pun entah kenapa. Saat itu sama sekali tidak sedang sedih, atau memikirkan masalah yang bisa bikin nangis.

Sempat beberapa lama berfikir, kok bisa ngono sih?

Dan pada akhirnya ketemu sama beberapa jawaban.

Selain karena sabar dan getol nya orangtua dalam mendoakan semua anak anaknya. ada factor lain yaitu sholawat. Bapak sering baca sholawat ketika momong kami anak anaknya. Bahkan masih sangat ingat sekali, bapak pernah menjelaskan apa itu sholawat, kenapa harus mengenal  dan membaca sholawat.

Waktu itu, yang disampaikan bapak adalah

“ nek koe maca sholawat, mengko akeh malaikat sing mbales ndongakna koe “

( kalau kamu baca sholawat, nanti banyak malaikat yang balas mendoakan kamu.)Waktu itu bapak menjelaskan, 1 sholawat dari kita, akan dibalas 10 doa dari malaikat kepada kita.

2019 kenal sama dunia pesantren. Awal betah di pondok, Sempat kepikiran, kok bisa sih aku yang sholatpun sangat jarang, puasa sangat jarang, hampir 20 tahun ( mungkin lebih) dijalanan, kok bisa masuk ke pondok pesantren, bahkan betah ( alhamdulillah sudah 5 taun jalan di pondok ).

Dan salah satu jawabanya ( mungkin ) karena sholawat juga. Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu? Karena awal di pondok, sempat berbulan bulan absen, sama sekali tidak pernah ke pondok. Waktu itu sedang ada masalah pertama dalam berumahtangga. Merasa mentok, kemudian sowan beliau guru kami, Gus Harry untuk meminta solusi.

Singkat kata, akhirnya diberi solusi oieh beliau. Dan kemudian aku memberanikan diri buat meminta amalan buat diamalkan setelah sholat. Bukan minta amalan untuk yang aneh aneh, karena waktu itu memang lagi kepengen belajar lebih. Dan dikasihlah 2 dzikir untuk dibaca setelah sholat, dan salah satunya adalah Sholawat.

Setelah belajar ber dzikir setelah sholat, alhamdulillah jadi lebih anteng,lebih tenang bahkan ketika pernikahan harus berakhir. Sama sekali tidak ada kekecewaan , kesedihan yang terlalu. Kecewa ada, tapi sangat kecil.

Setelah merasa mampu istikomah dzikir pasca sholat, kemudian ingin “ upgrade “. Karena merasa punya insom, lagi lagi nekad  minta amalan yang bisa dilakuin buat belajar dzikir malam. Alasan ingin belajar dzikir malam adalah lagu tombo ati. Ingin benar benar membersihkan hati dari dosa masa lalu.Daripada begadang karena insom kok gitu gitu aja, yaudah belajar dulu dzikir malam.Dan lagi lagi, dikasih amalanya adalah sholawat.

Kesimpulanya adalah

Berkat sholawat yang diajarkan bapak,tentu saja dengan doa doa dari bapak ibu disetiap sholatnya,membuat aku yang cukup lama jauh dari agama mau mencoba dunia baru,dunia pesantren. Walaupun Cuma main,pun seminggu sekali.

Lalu diberi amalan sholawat oleh guru kami para santri Fajim,dan akhirnya,sudah lebih dari 5 tahun masih betah di pondok pesantren Al Hasani Kebumen. Bahkan, dapat pengakuan dan pujian langsung dari bapak ibu, bahwa sudah kelihatan perubahan yang baik.

Kenalkan dan ajarkan sholawat kepada anak sejak dini. Barangkali itu bisa ” memanggil ” kembali hati yang sedang tersesat dari jalan Nya. Atau apabila ada saudara, sahabat, orang terekat kita sedang ” tersesat ” doakan dan hadiahkan sholawat kepadanya, seperti yang bapaku lakukan. Semoga ikhtiar itu bisa menjadi obat hati bagi mereka yang masih ” tersesat ”

Next, kita ngopi sambil “ngobrol “ soal keistimewaan sholawat.